9 Pemain Bola yang Meninggal Saat Bertanding !

Sepakbola menyimpan begitu banyak mimpi bagi setiap orang. Begitu banyak pesepakbola yang menjadi idola, selebriti, dan juga legenda bagi negaranya masing-masing. Maka tak heran, di negara-negara yang memiliki kultur sepakbola yang kuat seperti Brasil, Argentina, Inggris, dan Italia, sepakbola dijadikan salah satu pilihan hidup. Apalagi bagi anak-anak jalanan berbakat yang mempunyai mimpi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak melalui sepakbola.

Bak menjadi seorang ksatria yang gugur di medan pertempuran, ada pula beberapa pemain sepakbola yang menemui ajalny di lapangan hijau. Mereka adalah :

1. Phil O’Donnell


kapten tim Motherwell (Skotlandia), 35 tahun, meninggal dunia setelah pingsan saat memperkuat timnya menghadap Dundee United dalam laga di kompetisi Liga Primer Skotlandia, Sabtu 29 Desember 2007 malam di Fir Park.

2. Antonio Puerta


bek Sevilla, 22 tahun, meninggal tiga hari sesudah (sempat) pingsan dalam laga La Liga melawan Getafe, Sabtu, 25 Agustus 2007.

3. Chaswe Nsofwa


27 tahun, mantan striker Zambia, pingsan dan meninggal ketika mengikuti sesi latihan bersama klubnya, Hapoel Beersheba (Israel). Saat itu suhu udara mencapai 40 derajat Celcius.

4. Hugo Cunha

gelandang Uniao Leiria (Portugal), 28 tahun, Juni 2005.

5. Miklos Feher

24 tahun, pemain asal Hungaria meninggal pada Januari 2004 saat memperkuat klubnya, Benfica bertanding melawan Vitoria Guimaraes.

6. Marc-Vivien Foe


28 tahun, meninggal di lapangan saat laga Kameruin vs Kolumbia, Juni 2003.

7. Eri Irianto

26 tahun, pemain Persebaya Surabaya, meninggal dunia, diduga akibat gagal jantung, pada 3 April 2000 di RSUD dr Soetomo, beberapa jam setelah bertanding melawan PSIM Yogyakarta.

8. Samuel Okwaraji

24 tahun, meninggal pada Agustus 1989, sebelum berakhirnya pertandingan babak kualifikasi PD 1990 antara Nigeria vs Angola.


9.Jumadi abdi

Jumadi Abdi (lahir di Balikpapan, 14 Maret 1983 – meninggal di Bontang, 15 Maret 2009 pada umur 26 tahun)[1] adalah pemain sepak bola Indonesia berposisikan sebagai gelandang yang bermain untuk Bontang PKT (kini Bontang FC) di musim 2008. Sebelum bermain untuk Bontang PKT, ia pernah bermain untuk Persiba Balikpapan dan Persikota Tangerang.

Created By….
viets jeremy

Olahraga Berbahaya Bagi Jantung…?

https://i0.wp.com/www.bpkpenabur.or.id/userfiles/image/smak%20bj/fasilitas/olahraga.jpg

DO THE EVOLUTION : Tak sedikit peolahraga yang menderita serangan jantung atau kematian mendadak saat bermain tenis, menyelam, atau berjalan. Bahkan beberapa artis di Indonesia mengalami serangan jantung setelah bermain sepak bola atau futsal seperti pelawak Srimulat Basuki. Kejadian ini mungkin memberi kesan bahwa olahraga berat berbahaya ke jantung.

Berdasarkan sportssafety, kematian mendadak pada atlet muda diperkirakan satu dari 100.000 hingga 300.000 per tahun. Kejadian ini sekitar 12 per tahun pada atlet sekolah tinggi, dengan didominasi laki-laki, Sabtu (5/2).

Serangan jantung terjadi ketika darah mengalir ke jantung berkurang atau benar-benar diblokir, yang menyebabkan rasa sakit di dada. Jika tidak segera diobati, jaringan jantung yang terkena akan mati. Sebelum serangan, sebagian besar korban mengalami angina (nyeri dada) yang diprovokasi oleh penyumbatan aliran darah ke jantung.

Namun, sepertiga dari semua serangan jantung terjadi tanpa tanda peringatan. Para korban menderita gangguan sporadis aliran darah ke jantung untuk alasan yang tidak diketahui, meskipun mereka secara bertahap merusak jaringan jantung. Bahkan meskipun jantung sudah rusak, individu yang terserang terlihat fit dan kuat.

Sebagian besar kematian mendadak dikarenakan cacat jantung bawaan. Hypertrophic cardiomyopathy (HCM) adalah penyebab paling umum tiba-tiba, kematian jantung tak terduga antara usia 12-32 tahun.

Penyebab paling umum kedua kematian mendadak adalah kelainan kongenital pada pembuluh darah arteri jantung (congenital coronary artery anomalies). Arteri ini menyuplai darah ke jantung. Kematian mendadak mungkin merupakan tanda pertama dari kondisi ini dan biasanya dipicu oleh olahraga. Sekitar 25 persen mungkin mengalami gejala berupa palpitasi (jantung berdebar) dan syncope (pingsan).

Riwayat pribadi atlet dan keluarga juga sangat penting. Namun untuk mendeteksi dari beberapa kondisi yang menyebabkan kematian mendadak pada atlet sangat sulit. Sering, riwayat keluarga merupakan faktor risiko saja. Faktor-faktor yang akan menempatkan atlet pada peningkatan risiko kematian mendadak adalah riwayat keluarga kematian dini, masalah kesehatan yang signifikan dari penyakit kardiovaskuler dalam keluarga dekat, yang lebih muda dari 50 tahun.

Sementara riwayat pribadi meliputi pernah mengalami nyeri pada dada, khususnya apabila gejala-gejala tersebut muncul karena dipicu oleh aktivitas olahraga yang dilakukan si atlet, sesak napas yang berlebihan atau kelelahan selama latihan. Sejarah pribadi dari penyakit jantung bawaan hipertensi, palpitasi juga harus diperhatikan.(MEL)

Sumber : http://kesehatan.liputan6.com

Created By…. viets jeremy